Ilustrasi banjir yang menghanyutkan harapan keluargaku
Kemudian pada tanggal 22 bulan 11 tahun 88, lahirlah saya, yang kemudian menambah peliknya keadaan.. Menghidupi seorang istri dan 4 orang anak, bapak saya membanting tulang tanpa ijazah apapun.. Miris, itulah yang setiap hari aku lihat dari mata beliau.. Namun satu yang selalu membuatku merinding, senyum manis tulus selalu menghias di wajah yang sudah tergerus waktu itu, tak pernah menitikkan air mata kesedihan.. Dari ojek, hingga pekerja kasar dijalani beliau demi kami, anak dan istrinya, agar bisa makan sesuap nasi.. Sedangkan ibu yang berijazahkan SMP membantu keuangan keluarga dengan kerja serabutan di rumah tetangga dan sanak saudara.. Ingin rasanya membantu beliau mengais rezeki, namun polos pemikiranku waktu kecil, hanya mampu membayangkan mencari uang jatuh di pinggir jalan..
Ilustrasi susah payah yang bapak ibuku lakukan demi kami
Masuk ke Taman Kanak-kanak swasta kemudian dilanjutkan ke Sekolah Dasar, yang baru saja membuka pendaftaran murid pertama, alias angkatan pertama, SDI Al-Azhaar Tulungagung.. Ya, aku adalah salah satu murid pertama di Sekolah Islam tersebut.. Bersama dengan 4-5 teman sekelasku, kami membangun nama besar Al-Azhaar di Tulungagung.. Mereka adalah Mohammad Rosyadi Noor, Muhammad Alfan Pujianto, Prima Sita Safitri, dan Rahima Praptin Zuhairoh.. Beberapa teman sekelasku (yang tak kusebut namanya) memilih untuk keluar dari Al-Azhaar dan masuk ke Sekolah yang lebih bonafit..
SDI AL-Azhaar Full Day School
Tak banyak memang yang dapat aku ingat pada masa itu.. Masa-masa penuh perjuangan dan sarat akan makna hidup..
every one have his/her own way honey..
BalasHapusanggap saja itu sebagia cerita dari cerita sukses yang akan ada.. Ganbatte! ^0^