Minggu, 15 Mei 2011

Someone Special (part 1)

Talking about someone special in my life.. Here it is..



Wah, salah gan.. Kalo ini kan martabok spesial pake telor.. Mohon mangap deh.. Hehehe






SOMEONE SPECIAL IN MY LIFE

Bertemu dengan dia saat masih cupu dulu (skrng juga masih cupu), saat menjadi Penanggung Jawab acara Himpunan Mahasiswa Elektronika PENS-ITS, ROBOTraining for MABA.. 
 Ilustrasi Robot Linetrace



Saat sibuk iwar-iwir alias wira-wiri, masuk kelas sana-sini, tiba-tiba mataku terpaku pada sosok di gadis di salah satu ruangan.. Ruangan yang gelap pengap dan sunyi, menatapku tajam dari sudut sempit.. Berpakaian serba putih dengan rambut terurai ke depan wajah.. Lho, ini kok jadi cerita horor?

Waktu itu, sebagai seorang PJ yang baik dan tampan, saya mengunjungi setiap kelas yang digunakan untuk acara pelatihan.. Biar tahu bahwa PJnya itu orang tampan.. Maksudnya biar tahu apakah acara kami ini berjalan sesuai dengan rencana.. Mulai dari kelengkapan, trainer, hingga peserta, tak luput dari pantauan..


Sampai di sebuah kelas, yang kebetulan trainer di ruangan tersebut merupakan teman sekelas saya (baca:Dani), ada salah satu peserta yg bagi saya adalah sebuah keindahan penciptaan Allah SWT.. Ada 3-5 detik aku terpaku menatapnya, seorang perempuan berjilbab, yang dengan tekun merakit sebuah Line Follower Robot bersama rekan setimnya.. Keidahan dan kecantikan, manis, sejuk, dan tenang, bertubi-tubi.. Kemudian Dani menghampiriku dan memperbaiki halting yang terjadi pada mata saya kala itu..
Emillia Iflachah, my future wife




Emillia, itulah nama yang aku peroleh dari Dani.. Sebuah nama seorang gadis yg hingga kini menduduki peringkat satu di hatiku.. Aku harus mengenalnya! Harus! 


Tidak pernah sebelumnya aku melihat seorang gadis yang membuatku ingin mendekatinya, mengenalnya, dan selalu ingin di dekatnya, kecuali dia.. Rasa takut, nervous, dan minder selalu menghantuiku saat berdekatan dengan wanita.. Namun saat melihatnya, keberanian itu muncul, seakan tidak mau melepas keindahan manusia itu lepas genggamanku..


Dengan sedikit bantua dari Dani, aku kemudian bisa mengatur jadwal untuk bertemu dengan sosok yang indah itu lagi.. Dengan alasan membantu menyelesaikan Robot Linetracer, pertemuan demi pertemuan terjadi.. Tak banyak yang perbincangan mampu aku kembangkan dari dia.. Karena saat bersamanya, rasa nervous kembali muncul.. Berkali-kali aku mencoba menepis rasa gugup itu.. Bersama dengan rekan setimnya, aku membantu dia menerjemahkan rangkaian elektronika menjadi hardware Linetracer.. 


Selagi aku mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengannya lagi, sebuah petir menyambarku.. Seakan tidak memberiku kesempatan mengenalnya lebih jauh, seorang lelaki yang merupakan teman sekelas Emillia, mendapatkan tanda tangan cintanya.. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.. Kekesalan dan amarah yang menjadi-jadi aku tujukan pada diriku sendiri.. Mengapa aku tidak memiliki keberanian untuk mengambil langkah lebih ke depan untuk mendapatkannya.. Menyesal.. Tamat!

Sabtu, 07 Mei 2011

First Appearance..

Masa kecilku cukup memprihatinkan.. Hidup dengan keadaan yang serba kekurangan.. Sekitar tahun 80an, bapak mengalami PHK setelah mengabdi sebagai Mandor di sebuah perusahaan perkebunan selama beberapa tahun.. Diikuti banjir di tempat tinggalku, Sembung Tulungagung Jawa Timur, yang mengakibatkan Ijazah SMA bapak hanyut entah kemana.. Dari situlah kemalangan dimulai..

 Ilustrasi banjir yang menghanyutkan harapan keluargaku

Kemudian pada tanggal 22 bulan 11 tahun 88, lahirlah saya, yang kemudian menambah peliknya keadaan.. Menghidupi seorang istri dan 4 orang anak, bapak saya membanting tulang tanpa ijazah apapun.. Miris, itulah yang setiap hari aku lihat dari mata beliau.. Namun satu yang selalu membuatku merinding, senyum manis tulus selalu menghias di wajah yang sudah tergerus waktu itu, tak pernah menitikkan air mata kesedihan.. Dari ojek, hingga pekerja kasar dijalani beliau demi kami, anak dan istrinya, agar bisa makan sesuap nasi.. Sedangkan ibu yang berijazahkan SMP membantu keuangan keluarga dengan kerja serabutan di rumah tetangga dan sanak saudara.. Ingin rasanya membantu beliau mengais rezeki, namun polos pemikiranku waktu kecil, hanya mampu membayangkan mencari uang jatuh di pinggir jalan..

Ilustrasi susah payah yang bapak ibuku lakukan demi kami


Masuk ke Taman Kanak-kanak swasta kemudian dilanjutkan ke Sekolah Dasar, yang baru saja membuka pendaftaran murid pertama, alias angkatan pertama, SDI Al-Azhaar Tulungagung.. Ya, aku adalah salah satu murid pertama di Sekolah Islam tersebut.. Bersama dengan 4-5 teman sekelasku, kami membangun nama besar Al-Azhaar di Tulungagung.. Mereka adalah Mohammad Rosyadi Noor, Muhammad Alfan Pujianto, Prima Sita Safitri, dan Rahima Praptin Zuhairoh.. Beberapa teman sekelasku (yang tak kusebut namanya) memilih untuk keluar dari Al-Azhaar dan masuk ke Sekolah yang lebih bonafit..

 SDI AL-Azhaar Full Day School

Tak banyak memang yang dapat aku ingat pada masa itu.. Masa-masa penuh perjuangan dan sarat akan makna hidup..

Introduce...

Bikin blog alias Go Blog.. Hmm.. Piye ki? (-,-")7

Yawdah, perkenalkan.. Nama saya Henri Achrieza, kata kedua dari nama saya, butuh waktu beberapa tahun untuk mengeja dengan benar.. Huffttdhh (alay dulu ah).. 
Biasa dipanggil Henri, Riza, kancil, jeh, cing, kang, le, jo, dul, woy, mas, dek, pak, dll.. Silakan pilih sendiri panggilan untuk saya.. 

Dan inilah bukti ketampanan saya.. Wow, menakjubkan bukan? (bukaaan..!!)


Orang gila yang lagi kumat saat praktikum Elektronika Medik

Perkenalkan orang-orang yang dengan sabar meracik, memasak, bila sudah matang, tiriskan.. Mereka adalah pasangan suami istri Soni Suwarto dan Umi Hani.. Memadukan Secret & Original Recipes.. Setelah 9 bulan beberapa hari, muncullah ke hadapan mereka seonggok daging hidup bdrgerak dan berteriak, "BERHASIL..!!".

Awalnya, bpk. Suwarto dan ibu Umi tidak percaya apa yang dilihatnya.. Namun karena seonggok daging a.k.a. bayi itu menodongkan senjata (baca:nangis) kepada mereka berdua, akhirnya mereka pasrah dan merawat bayi itu..

Inilah para korban kekejaman bayi tersebut..
Soni Suwarto bersama anak pertama, sedangkan gambar yang kanan adalah Umi Hani dengan pose indahnya.


Dan inilah tersangkanya.. Seonggok daging yang kemudian disebut bayi ini berbakat dalam bermain kartu.. Terlihat sejak kecil, yang dipegang itu adalah sepotong kartu remi.. Dan sampai saat ini dia tidak pernah mengalami kemenangan saat bermain kartu.. Sungguh bakat yg luar binasa..
Henri Achrieza, anak terakhir dengan 2 kakak laki dan 1 kakak perempuan

Kemudian, mengalirlah alunan cerita indah keluarga Suwarto yang diiringi suka duka tangis canda tawa..