SOMEONE SPECIAL IN MY LIFE
Bertemu dengan dia saat masih cupu dulu (skrng juga masih cupu), saat menjadi Penanggung Jawab acara Himpunan Mahasiswa Elektronika PENS-ITS, ROBOTraining for MABA..
Ilustrasi Robot Linetrace
Saat sibuk iwar-iwir alias wira-wiri, masuk kelas sana-sini, tiba-tiba mataku terpaku pada sosok di gadis di salah satu ruangan.. Ruangan yang gelap pengap dan sunyi, menatapku tajam dari sudut sempit.. Berpakaian serba putih dengan rambut terurai ke depan wajah.. Lho, ini kok jadi cerita horor?
Waktu itu, sebagai seorang PJ yang baik dan tampan, saya mengunjungi setiap kelas yang digunakan untuk acara pelatihan.. Biar tahu bahwa PJnya itu orang tampan.. Maksudnya biar tahu apakah acara kami ini berjalan sesuai dengan rencana.. Mulai dari kelengkapan, trainer, hingga peserta, tak luput dari pantauan..
Sampai di sebuah kelas, yang kebetulan trainer di ruangan tersebut merupakan teman sekelas saya (baca:Dani), ada salah satu peserta yg bagi saya adalah sebuah keindahan penciptaan Allah SWT.. Ada 3-5 detik aku terpaku menatapnya, seorang perempuan berjilbab, yang dengan tekun merakit sebuah Line Follower Robot bersama rekan setimnya.. Keidahan dan kecantikan, manis, sejuk, dan tenang, bertubi-tubi.. Kemudian Dani menghampiriku dan memperbaiki halting yang terjadi pada mata saya kala itu..
Emillia Iflachah, my future wife
Emillia, itulah nama yang aku peroleh dari Dani.. Sebuah nama seorang gadis yg hingga kini menduduki peringkat satu di hatiku.. Aku harus mengenalnya! Harus!
Tidak pernah sebelumnya aku melihat seorang gadis yang membuatku ingin mendekatinya, mengenalnya, dan selalu ingin di dekatnya, kecuali dia.. Rasa takut, nervous, dan minder selalu menghantuiku saat berdekatan dengan wanita.. Namun saat melihatnya, keberanian itu muncul, seakan tidak mau melepas keindahan manusia itu lepas genggamanku..
Dengan sedikit bantua dari Dani, aku kemudian bisa mengatur jadwal untuk bertemu dengan sosok yang indah itu lagi.. Dengan alasan membantu menyelesaikan Robot Linetracer, pertemuan demi pertemuan terjadi.. Tak banyak yang perbincangan mampu aku kembangkan dari dia.. Karena saat bersamanya, rasa nervous kembali muncul.. Berkali-kali aku mencoba menepis rasa gugup itu.. Bersama dengan rekan setimnya, aku membantu dia menerjemahkan rangkaian elektronika menjadi hardware Linetracer..
Selagi aku mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengannya lagi, sebuah petir menyambarku.. Seakan tidak memberiku kesempatan mengenalnya lebih jauh, seorang lelaki yang merupakan teman sekelas Emillia, mendapatkan tanda tangan cintanya.. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.. Kekesalan dan amarah yang menjadi-jadi aku tujukan pada diriku sendiri.. Mengapa aku tidak memiliki keberanian untuk mengambil langkah lebih ke depan untuk mendapatkannya.. Menyesal.. Tamat!






